Letkol Gustav Adolf Manullang

Letkol Gustaf Adolf Manullang berasal dari Desa Matiti, Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan. Lahir di Matiti, Tanggal 9 September 1928. Tahun 1959 menikah dengan Ninnin. Diberkati di Gereja Immanuel yang sekarang jadi GPIB Immanuel beralamat di Jalan Merdeka Timur.
Dari pernikahan Gustav-Ninnin, Tuhan karuniakan dua anak; Augusta Monalisa Srimatiti boru Manullang, dan Patuan Mangaraja Gustaf Mangapul Manullang.

Pendidikan Gustav Adolf Manullang

Gustav masuk ketentaraan di Bandung, lalu pendidikan pengemblengan di Kota Malang. Selesai pendidikan ditugaskan kembali di Bandung. Kariernya cemerlang bak meteor. Atas kepintarannya dia didaulat negara mengikuti berbagai kursus militer, baik di dalam mau pun di luar negeri. Ke Amerika Serikat, Jepang, Inggris dan beberapa negara lainnya.

Maka jadilah dirinya salah satu penerbang dari Angkatan Darat yang mampu memiloti pesawat tempur. Tak heran dirinya jadi rebutan petinggi militer waktu itu. Sempat menjadi ajudan Jenderal Ahmad Yani, lalu menjadi ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution.

Tugas kemiliteran Gustav Adolf Manullang

Tahun 1956, ketika Majelis Umum PBB memutuskan untuk menarik mundur pasukan Inggris, Prancis dan Israel dari wilayah Mesir. Indonesia mendukung keputusan itu. Untuk pertama kalinya mengirim Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB ke Mesir yang dinamakan dengan Kontingen Garuda I.
Salah satu pemimpin kompi dalam Kontingen Garuda I itu adalah Gustav Adolf Manullang. Kontingen ini mengakhiri masa tugasnya pada tanggal 29 September 1957.
Selajutnya,  Indonesia ingin berperan dalam perdamaian dunia. Maka Kontingen Garuda II dikirim ke Kongo pada 1960 dipimpin oleh Letkol Inf Solichin GP. Pasukan tentara Indonesia bertugas di Kongo September 1960 hingga Mei 1961, Gustav juga ikut sebagai pimpinan kompi kavaleri.

Kemudian Kongo bergolak lagi. Tahun 1962 Indonesia mengirim kembali bala bantuan tentara yang dipimpin Brigjen TNI Kemal Idris dan Kol Inf Sobirin Mochtar. Kontingen Garuda III terdiri atas Batalyon 531/Raiders, satuan-satuan Kodam II Bukit Barisan, Batalyon Kavaleri 7, dan unsur bantuan tempur yang dipimpin langsung GA Manullang.

Gustav Adolf Manullang Gugur sebagai Anumerta


Suatu hari terjadi serangan mendadak ke markas Garuda III. Pertempuran dan tembak menembak terjadi tengah malam. Markas Garuda III terkepung. Semua personil merapatkan barisan, berusaha menangkis serangan tersebut.

Serangan dilakukan oleh sekitar 2000 pengacau, hasil gabungan tiga kelompok pemberontak. Sedangkan markas komando Garuda III dipertahankan sekitar 300-an personil. Sesegera mungkin dibentuk tim berkekuatan tiga puluh orang personil sebagai tim bayangan sekaligus tim terdepan untuk pengejaran hingga ke markas pemberontak.

Mereka bergerak dengan perlengkapan garis satu untuk pengejaran. Semangat tinggi dan berkobar kelihatan jelas di wajah-wajah mereka yang terpilih. Mereka menuju kawasan wilayah tak bertuan, yang menjadi daerah kekuasaan pemberontak, dan juga merupakan daerah terlarang bagi pasukan PBB. Pasukan ini dipimpin Gustav dengan dibantu lima orang letnan.

Dengan penyamaran, layaknya kumpulan suku pengembara. Pasukan ini bergerak dalam tiga kelompok. Badan dan wajah mereka digosok arang sehingga hitam dan menyerupai penduduk asli. Ada yang berpakaian ibu-ibu dan menjunjung bakul sayuran daun singkong. Mereka bergerak melalui pinggiran danau di daerah tak bertuan. Memasuki senja, personil bermalam di pinggiran danau sambil mengatur strategi penyerangan. Di kejauhan terlihat kelip-kelip lampu-lampu dari markas pemberontak.

Ada hal yang lucu, disini suku-suku di Kongo, termasuk pemberontak sangat takut hantu putih. Mereka percaya hantu dengan sosok berpakaian putih yang berbau bawang putih. Nah, disini strategi penyamaran diubah, menggunakan strategi itu; hantu putih. Di balik pakaian loreng mereka, terbungkus jubah putih yang mengembang ditiup angin danau sambil tak lupa dengan rantai bawang putih yang baunya menyegat tersebut.

Persiapan penyerangan dari danau dengan menggunakan kapal yang dicat hitam-hitam dipersiapkan. Saat melakukan serangan itu GA Manullang gugur. Naas saat dia hendak melewati tembak menembak antara pemberontak dengan pasukan militer PBB itu, Gustav posisi di tengah hutan belantara membawa mobil Jeep.
Jalannya berbatu-batu sementara stir mobil yang dikendarainnya lepas. Akhirnya,  dia terpaksa meloncat ke sebelah kiri, karena stir posisi sebelah kiri. Tetapi, saat itu pemberontak menembaknya, dan tak berapa lama suara ranjau meleduk, persis di sebelahnya dan mengenai tubuh Gustav.

Malang tak dapat ditolak, tumbuh Gustav bersimbah darah. Sempat masih bertahan dibawa ke rumah sakit bahkan sempat masih berinteraksi dengan seorang pendeta. Gustav masih sempat melepas dan menyerahkan jam tangannya untuk diserahkan kepada keluarga. Sebentar kemudian dia gugur.

Letnan Kolonel Gustav Adolf Manullang sebagai Gelar Penghargaan

Dua minggu setelah berita meninggal Gustav, PBB baru bisa mengurus jenasahnya untuk dikirim ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, sebelum dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, jasadnya disemayamkan di rumah mertuanya, Dr Ferdinand Lumban Tobing di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Saat itu juga pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Kolonel Anumerta, sebelumnya Mayor. Sayang nama harumnya tak pernah disemerbakkan di Indonesia, apalagi di kalangan masyarakat Batak. Padahal ide dan gagasannya banyak diadopsi tentara Indonesia. Termasuk pembuat logo Batalyon Kavaleri 7 orang hutan dengan slogan Pragosa Satya adalah dibuat GA Manullang. Bahkan, mengingat jasanya di lapangan bola Batalyon Kavaleri 7, Cijantung dinamai Lapangan GA Manullang, sebagai komandan pertama Batalyon Kavaleri 7.

Letkol GA Manullang. Gugur di misi bala bantuan Kontingen Garuda III di Kongo, Afrika. Meninggal di usia amat sangat muda, 35 tahun, tepatnya 19 Mei 1963. Dia meninggalkan istri, dan sepasang anak yang saat itu masih bayi 2, 5 tahun dan 6 bulan.
Dikutip dari tulisan Hojot Marluga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *